Sabtu, 27 Maret 2021

Menjadi Baru

 Ku goreskan pensil pada malam ini. Nishfu Sya'ban...


Orang-orang sibuk dengan shalatnya. Aku? Tahun ini mungkin bukan dengan shalat, Aku hanya ingin bercerita...


Layaknya Rabiah Adawiyah yang penuh dengan gelora cinta pada Ilahi, Ia mengatakan "Mengapa Allah milik semua orang, bukan untukku saja?" terkadang cemburu, tapi setuju..

Kali ini, biarkan orang-orang menikmati shalat untuk bertemu denganNya, akupun akan hadir dengan caraku seadanya...

Allah,

Aku bahagia dengan pemberian sehatMu di hari ini, hingga bisa ku gunakan untuk menjamu teman-teman yang sedang ibadah.

Aku bahagia saat Engkau masih menasibkan diriku untuk tidak berbuat maksiat, pada malam ini... 

Aku tertawa, senang dengan pemberianMu berupa hal-hal mubah di dunia ini, yang masih halal untuk kita nikmati...

Malam ini malam istimewa... Catatan amal disetorkan. Malam ini malam istimewa, beberapa orang menyambutnya dengan berpakaian lebih rapi, bersih bahkan baru di malam ini, sebagai tanda ta'dzim pada malam mulia...


Aku... bukannya tidak ingin takdzim, bukan malas, bukan juga tak ingin beli baju. Aku ingat, di dekatku ada mereka yang tak mampu melakukannya. Jika aku memaksakan diri untuk berpakaian 'baru', orang orang 'lemah' akan sedih meratapi keadaannya yang tak bisa berbuat demikian, dan lebih sedih jika harus memaksakan diri dan orang tua untuk membelikannya baju yang baru. Semua bajunya sama, tak ada yang dispesialkan...


Karena itu, aku termasuk orang yang tidak terlihat baru dalam beberapa hari besar islam. Supaya orang-orang lemah memiliki keyakinan bahwa 'berbaru-baru' bukan sebuah keharusan di hari-hari Agung. 

Selama Allah tak mengapa jika kita berpakaian biasa, maka takkan apa-apa!


Wahai Pemilik Kesempurnaan, dalam keadaanku yang serba biasa ini, di lubuk hati terdalam aku selalu mengatakan bahwa aku.... Sangat membutuhkanMu............... 

Shalawat dan salamku pada kekasihMu, Ahabbul kholqi ilallah


Kamis, 11 Maret 2021

Ingatan Masa Kecil

 Ini adalah hobi baru. Mengenang masa lalu, masa kecil saya. Hal yang paling banyak diingat dari masa kecil saya adalah halaqoh ngaji di waktu magrib. Halaqah ini dipimpin oleh bapak. Bapak sengaja mengadakan kajian maghrib untuk anak-anak dan remaja supaya waktu mereka tidak terbuang sia-sia. Pesertanya ada Ices  kecil (saya), Fani, Iki, Opik -dari kalangan sepupu- ada juga Teh Mira, A Aghi -My siblings- dan ada juga Pépét, Éeng dan juga Rifa yang merupakan anak-anak Depok dekat rumah. Kita bisa bilang mereka "orang tonggoh"


Ini adalah Ingatan saya. Kurang lebihnya bisa diceritakan seperti ini... 


Dahulu setiap kajian maghrib, bapak selalu memilihkan satu ayat untuk di jelaskan maknanya -bukan hanya baca artinya- siapapun yang bisa menjelaskan makna dari ayat tersebut, bapak akan mengeluarkan Rp1.000 dari dompetnya untuk diberikan pada juara ngaji hari itu. Saya orang yang paling kecil saat itu, hanya ikut-ikutan ngaji, tapi pengen juga dapat hadiah. Hampir semua orang pernah mendapatkan uang Rp1.000, saya saja tak pernah. Saking pengennya saya mendapat hadiah, saya minta pada bapak untuk memilihkan ayat yang gampang saja yang kiranya saya bisa jelaskan maknanya. Bapak menuruti Keinginan saya. Saya dipilihkan ayat yang gampang, yang kiranya saya bisa jelaskan maknanya. Bapak menuruti Keinginan saya. Saya dipilihkan ayat yang gampang. Saya pikir extra supaya bisa menjelaskan (semampu saya), bukan hanya mengartikan.


Disana saya merasa puas karena akhirnya saya bisa juga dapat 1.000 dari kemampuan saya sendiri. 


Hari ini jadwal baca quran. Semua dapat gilirannya. Ketika gilirannya Eeng tiba, ia mengatakan belum bisa baca al - quran padahal usianya lebih besar daripada saya. Dengan sombongnya, Ices kecil berkata pada Pani "masa kalah sama kita sih, Pan?" Pani yang berumur 2 tahun lebih tua dari saya mengatakan "Jangan gitu, Ces!" 


Saat ini, sekarang dan detik ini, saya bersyukur pernah memiliki lingkungan seperti halaqah maghrib itu. Semua berisi pelajaran penting yang aku ingat sampai hari ini. Oke kita lanjutkan cerita.... 


Pertemuan lalu, bapak menjelaskan tentang doanya Nabi Sulaiman. Bapak mengatakan alangkah bagusnya doa tersebut apalagi kalau kita hafal kan. Siapapun yang hafal doa ini, bapak kasih hadiah. Mataku terbelalak mendengar kata 'hadiah'. Ices kecil memang senang dengan target, hadiah dan apresiasi.


Sebelum halaqah di pertemuan selanjutnya dimulai, saya harus menjadi orang pertama yang menyetorkan doa itu. Seharian saya habiskan untuk menghafal. Tempat yang saya senangi dalam menghafal adalah ruang tamu. Di ruang tamu, saya bolak-balik jendela, kursi, lalu berdiri, jalan dan lain-lain. Berbagai posisi telah aku coba untuk memperkuat Ingatanku. Ibu hanya sesekali mengontrol ke ruang tamu dan aku katakan sedang tidak ingin diganggu karena ada tugasnya yang harus disetorkan magrib nanti. Saat waktu maghrib telah dekat, bapak sudah dalam keadaan rapi. Bukan untuk masuk halaqah, tapi pergi ceramah ke tempat lain. Otomatis halaqah magrib diliburkan. Padahal anak-anak lain sudah datang untuk kajian hari ini. 

Saya sangat sedih dan kecewa, karena Ices yang telah berusaha menghafal doa ternyata tidak bisa disetorkan hari ini. 


Tiba-tiba saya menangis karena tidak ada kajian. Padahal saya udah hafal doanya. 


Bapak yang sedang buru-buru akhirnya menyempatkan diri masuk ke halaqah magrib hanya untuk bertanya siapa yang sudah hafal doa. Tidak ada yang hafal. Hanya saya saja. Saya yang sedang terisak nangis itu pun berusaha membaca doa yang seharian ini dihafalkan. Walau tersendat oleh isak tangis, Ices kecil berhasil jadi orang pertama yang hafal doa itu. Yeay! Saya dapat 10.000 dari bapak!

Setelah saya akhirnya puas, Bapak langsung menutup kajian karena harus pergi ke tempat lain. 


Hal yang serupa pernah terjadi di halaqoh magrib. Kajian disini sangat beragam. Hari ini bagiannya membaca kitab gundul. Ices kecil belum pernah belajar. Hanya ikut menyimak saja sambil berkata "Kok bisa ya mereka baca kitab yang nggak ada harokatnya begini" kataku sambil memperhatikan kitab yang hurufnya kecil-kecil. 

Semua ada gilirannya membaca. Ketika giliran saya tiba, lagi-lagi di hari itu bapak punya jadwal yang akhirnya halaqah diliburkan. Saya memperhatikan bapak yang sudah siap-siap pergi. Dengan wajah malang penuh harap, saya minta bapak untuk sekali ini saja menyimak bacaanku. Bapak mengiyakan saat itu. Bapak carikan kitab gundul dan aku baca seenaknya saja. Banyak yang bapak benarkan tapi bapak terus menyimak bacaan saya yang salah salah, hanya untuk menghargai keinginan saya yang ingin bisa baca kitab. 


Setelah beberapa saat menyimak bacaan, lalu bapak pergi. 


Oke halaqah kami berikutnya adalah pelajaran fiqih Safinatun Naja. Semua punya kitab. Ices yang tidak punya akhirnya protes kenapa dia tak punya. Bapak akhirnya memberi saya kitab Safınah, padahal saya tak tahu caranya. 


Saya masih SD sangat kecil. Sedangkan A Aghi dan Teh Mira, Eeng, Iki, Opik dan pepet sudah SMP dan SMA. Bapak mulai ngelogat. Saya memegang pensil dan saya lihat kitabnya. Bapak terus melanjutkan ngelogat sedangkan saya tak tahu harus berbuat apa. Thanpa tanya dan tengok kanan-kiri, saya eratkan tangan pada pensil yang dipegang, saya fokuskan mata pada kitab, dan mulai untuk menitikkan air mata tanda kelemahan :D ya, hanya bisa membanjiri kitab dengan air mata saja. Setelah halaman itu basah,  Ibuku melihat saya yang Menangis tanpa suara. Ia kaget melihat kitab sudah basah air mata. "Ampun ieu mah kumaha. Dieu ku mamah bantuan" Ibuku akhirnya mengajariku yang masih nangis walaupun dengan sedikit kesal padaku. Ya bagaimana lagi ya, susah ngadepin ices kecil :D


Halaqah magrib bener-bener unik! Tidak hanya sekedar halaqah. Dalam halaqah itu ada giliran membaca buku Bahasa Inggris! Tentu dengan menerjemahkannya juga. Ya saya ingat saat itu A Aghi dan Teh Mira yang sering bapak suruh untuk baca dan terjemahkan kata demi kata. Saya hanya jadi penyimak saja. Mungkin bapak tahu kalau saya kena bagiannya, buku malah bakal banjir lagi :D 


Mereka nurut ditunjuk bapak untuk terjemahkan. Walau banyak yang harus dibenarkan, tapi aku salut karena mereka sangat pintar! (pada masanya)


Cerita lanjut di judul berbeda InsyaAllah

Sabtu, 27 Februari 2021

Ruang non Rebahan

Ruangan kantor di asrama adalah ruangan favorit bagi saya  -yang introvert- di era rebahan ini.

Selain karena warna dindingnya yang putih bersih, ruangan ini punya keistimewaan lain yang mungkin tidak didapatkan di tempat lain, yaitu

*Terdapat tempat penyimpanan Al-Quran*

Rak buku disusun serapi mungkin dengan adab adab yang telah dipelajari

Barisan paling atas khusus untuk Al-Quran. Karena Al-Quran tidak layak ditempatkan lebih rendah dari buku apapun. Apabila ada keadaan yang memaksa untuk menumpuk buku buku tsb secara vertikal, Al-Quran selalu berada paling atas.

Di barisan kedua terdapat kitab kitab referensi klasik, dan
Barisan ketiga, tempatnya buku catatan dan buku buku bacaan lainnya...

Disebut tempat favorit era rebahan, karena di ruangan ini terdapat ALQURAN. Di depan Al-Quran, kita bahkan dilarang untuk rebahan, selonjoran kaki, ataupun duduk dengan posisi lain yang dianggap tidak rapi.
Ruangan ini disukai karena memaksa saya untuk produktif.

Konon, dahulu kala Sang Pendiri Khalifah Ustmaniyah - Osman Ghazi - bertamu ke sebuah rumah. Ia masuk ke ruangan tamu yang disana diletakkan Al-Quran. Saat mengetahui Al-Quran ada disana, ia tak berani duduk seenaknya mengambil posisi santai, walaupun sudah dipersilakan untuk istirahat. Selama 6 jam ia menjaga keadaan dirinya agar tetap rapi di depan Al-Quran, sampai akhirnya ia dikaruniai Daulah Islamiyyah (Turki Utsmani) yang berdiri sekitar 6 abad lamanya

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketaqwaan hati" (QS. Al Hajj : 32)

Senin, 22 Februari 2021

Di Hari Milad Ibu

 Pagi hari, aku menyiapkan pakaian untuk dipakai hari ini. Setrikaan sudah siap bekerja menghilangkan lipatan-lipatan kusut pada pakaian yang akan ku kenakan.


Wushhh....!!! Suara uap terdengar saat aku memulai menggosokkan setrika. Setelah lipatan-lipatan hilang, segera ku pakai baju itu sebelum kehangatannya hilang.


Ketika hangatnya baju menempel di tubuhku, seketika ingatanku kembali ke masa lalu..........


Belasan tahun lalu ketika aku duduk di bangku SD. Sebelum aku mandi dan berangkat sekolah, ibu selalu menghangatkan baju seragamku dengan setrikaan. Sehingga saat dinginnya air Tanjungsari menyerang diriku, aku jadikan seragam yang dihangatkan ibu menjadi tameng dari dinginnya hawa saat itu.


"Nih, ayo cepat! Keburu dingin lagi" ibu melepaskan setrika dan segera memberikannya padaku.


Aku siap berangkat sekolah. Jika pagi itu ayahku ada di rumah, ia pun memanaskan mesin motornya untuk mengantarkanku ke sekolah. Aku yang kecil naik ke boncengan ayah dengan kepayahan.

Dadaaah,,, aku pergi ya!


Masa lalu telah berlalu. Ibu tidak lagi menghangatkan bajuku. Dan anak kecil yang duduk di boncengan ayah bukanlah diriku lagi. Masa begitu cepat menggantikan generasi. Aku selalu melihat diriku yang dulu masih kecil saat melihat dia yang sedang berangkat sekolah.


Yang menyetrika bajunya, yang mengantarkan sekolahnya masih tetap orang yang sama, ayah dan ibu yang dulu melakukan hal yang sama padaku.


أطال الله بقاكما بطاعته و سلك بكما سبيل احبائه

Jumat, 17 Juli 2020

Filosofi I'rob Fiil Madi

Mudzakarah kali ini guru saya menyampaikan hikmah dalam ilmu nahwu.
Fiil madi itu selalu berakhiran fathah akhirnya. Itu kaidah yang BENAR. Tapi ketika fiil madi berubah menjadi jamak mudzakkar (yang mengandung wawu jamak) maka fathah bukan lagi harakah yang digunakan. Karena wawu jamak lebih pantas dengan dommah, maka fathah diganti harakahnya dengan dommah. Bukan karena fathah yang salah, tapi karena dommah adalah harakah yang PANTAS.
.
Kaidah ini berlaku dlm beberapa hal, Nak. Yang pertama :
ada org yg menyampaikan islam menggunakan metode ceramah yang terkesan 'flat' dan mengundang kantuk sehingga org enggan untuk datang kesana. Metode seperti itu memang tidak salah,
Mungkin caranya menyampaikan islam sudah benar. Tapi ketika zaman sudah berubah dan membutuhkan sesuatu yang pantas dan cocok pada zamannya, maka seharusnya itu yang digunakan. Bukan karena cara dia yang tidak benar, tapi karena kurang cocok apabila digunakan di zaman ini.
.
Beliau menambahkan lagi :
Yang kedua,
Nak, kalau kamu gak bisa menjadi milik dia, bukan berarti kamu salah. Hanya saja km bukan orang yang cocok buat dia.
Guru... guru....  bisa wae bikin aku semangat kana elmu

Senin, 13 Juli 2020

Peran Dakwah di Era Teknologi


Syekh Sulaiman Hilmi Tunahan pernah berkata dalam doanya "Ya Allah, jangan kau ambil dunia dari tanganku dan jangan kau taruh dalam hatiku."

Salah satu hikmah mendalam yang bisa diambil dari perkataan diatas adalah manusia sebagai makhluk berakal harus menjadi pengendali, bukan malah menjadi alat yang dikendalikan oleh dunia.

Allah SWT telah menjadikan manusia sebagai khalifah fil ardl, pemimpin di bumi. Artinya, manusia diamanahi agar mengelola dunia sebaik mungkin. Telah dikatakan berkali-kali dalam Al-Quran bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Mari kita tengok dunia hari ini. Apakah ia dalam keadaan baik-baik saja?

Ini adalah zaman teknologi. Teknologi muncul dengan berbagai desainnya dibuat dengan tujuan memudahkan manusia dalam melakukan pekerjaan hariannya. Penggunaan yang tidak bijak membuat mereka terlena dan akhirnya lupa kepada tugas-tugas pentingnya. Saat diri terlena, saat itu juga dia sulit untuk memulai. Atas tugas apa dia hadir di bumi? Apa yang akan terjadi saat seseorang diizinkan untuk hadir ke dunia namun ternyata tidak melaksanakan tugas-tugas yang diperintahkan?

Untuk menjalankan tugas utama ini, hal yang perlu dilakukan adalah dengan mendalami ilmu Al-Quran. Hal ini yang harus kita utamakan supaya manusia tetap berada on the track, tidak lupa dengan tugas utamanya sebagai khalifah, serta tidak melalaikan peran Al-Quran sebagai pedoman utama.

Sesungguhnya dunia -milik Allah- ini luas sekali, tidak mungkin diurus sendiri. Perlu sumbangsih dari mereka yang masih memiliki tanggung jawab dan kesadaran terhadap perkembangan teknologi masa kini, supaya tetap mengingatkan pada tugas kita untuk menghamba pada ilahi.
Lihatlah, Allah tidak membiarkan hambaNya berjalan sendirian. Al-Quran diturunkan sebagai pedoman, Rasulullah SAW diutus sebagai teladan. Lihatlah bagaimana cara Rasul mendakwahkan islam, ditunjukkan akhlaq mulia sebagai tamsil keislaman sebenarnya. Maka nikmat apa lagi yang kita dustakan? Mari renungi sejenak bagaimana sulitnya Rasul mendakwahkan islam saat itu.

Zaman berganti. Teknologi beraksi. Informasi dari negara yang berjauhan bisa dengan mudah diakses dalam hitungan menit bahkan detik. Ini adalah kemudahan yang diberikan Allah SWT supaya manusia bisa menyebarkan islam lebih mudah dan luas. Satu yang harus kita ingat, sebesar apapun pengaruh teknologi dalam perkembangan zaman, tidak mengeliminasi peran a-lquran sebagai mukjizat terbesar sepanjang masa, karena Al-Quran adalah referensi utama dari kitab ilmu pengetahuan. Begitupun beliau yang diwahyukan Al-Quran pada dirinya. Sebanyak apapun orang hebat yang muncul di permukaan bumi, tidak menggantikan peran Rasulullah sebagai tokoh idola utama, yang dalam dirinya terdapat akhlak Al-Quran.

Betapa banyak mereka yang mengenyampingkan bahkan menghilangkan peran islam hanya karena zaman yang berbeda. Begitu banyak mereka yang mengingkari tauhid, karena tidak seimbangnya akal dan keimanan. Maka manusia yang canggih adalah manusia yang bisa menyeimbangkan dua hal tersebut.
Apabila manusia hidup di zaman ini, hendaknya mereka menggunakan fasilitas zaman sebagai alat untuk mendakwahkan islam lebih mudah dan indah (bukan malah lebih susah dan parah). Siapa lagi yang siap melakukan hal ini selain dimulai dari kita sendiri?

Jika teknologi dapat menajamkan kemampuan akal dalam berpikir, Al-Quran dapat mengasah keduanya, akal dan keimanan. Musuh islam tahu betul akan hal ini. Islam akan kuat dengan berpegang teguh kepada aturan Al-Quran. Tindakan mereka selanjutnya adalah mendesain teknologi sedemikian rupa sehingga membuat para muslim/ah  menjauh dari Al-Quran. Sangat mengkhawatirkan…

Keagungan Al-Quran mulai tertutup dengan gemerlapnya teknologi yang terus membutakan, sehingga Al-Quran jauh ditinggalkan. Tugas siapa lagi kalau bukan kita yang mendakwahkan dan mengkaji Al-Quran?

Kita sebagai umat yang dikaruniai mukjizat terbesar, harusnya memiliki tanggung jawab terhadap orang-orang disekitar kita. Kita tunjukkan bagaimana islam mengikat persaudaraan, mengadili segala bentuk kemungkaran, dan menebar kebahagiaan.

Karena pada kenyataannya islam banyak dinilai pertama kali dari perilaku penganutnya.
Jadi, ternyata berdakwah tidak hanya dilakukan dengan mengajak secara lisan saja. Juga tidak hanya dilakukan bagi mereka yang bergelar ustadz/ah saja. Dakwah akan lebih efektif saat dilakukan dengan cara menunjukkan rasa damai dan bahagia yang dirasakan saat menjadi seorang muslim yang sesungguhnya.

Bukan dengan cara jadi budaknya dunia, karena terbukti Rasulullah pun sukses menyiarkan islam hingga eksis sampai sekarang dalam keadaan dirinya yang zuhud, jauh dari gemerlap dunia. Bukan berarti dunia ditinggalkan seutuhnya. Bagaimanapun juga dunia adalah tempatnya manusia mengumpulkan amal-amalan yang mengantarkan manusia ke surga. Allah SWT adalah raja pemilik langit dan bumi. Apa-apa yang ada di dalamnya boleh digunakan untuk kepentingan agamaNya. Siapa lagi yang akan menyadarkan akan hal ini kepada yang orang lain kalau bukan kita sendiri?

Teknologi adalah pedangnya zaman. Dia bisa menebas musuh, atau malah menebas penggunanya. Tergantung seberapa bijak dia menggunakannya.

Semua kita lakukan dengat niat ibadah, tugas terbesar sekaligus tugas utama manusia. Dengan cara melaksanakan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi dan menghamba pada Ilahi Robbi.

Saking gemerlapnya teknologi yang berkembang, terkadang membutakan niat awal kita untuk kembali pada Al-Quran. Tugas kita adalah saling mengingatkan agar kembali pada fitrah asli manusia, sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa. Dengan mengingatkan bahwa Rasulullah pun berdakwah dengan mencerminkan sosok dirinya yang dimuliakan dengan islam. Sosok yang diatur oleh alquran, bukan oleh koran. Sosok yang menyenangkan, bukan sosok yang menakutkan.

Maka manusia yang bisa dikatakan canggih pada zaman ini adalah manusia yang memanfaatkan gemerlap masa kini untuk menabung amal masa nanti. Karena manusia yang canggih adalah manusia yang tidak melupakan kodratnya sebagai makhluk dan hanya bisa diatur oleh aturan Kholiq.

Jumat, 10 Juli 2020

Kembalinya Hagia Sophia Menjadi Masjid


. هذا من فضل ربي

I impressed by this building. Saya mengagumi bangunan ini. Dulu, waktu SD saya bercita-cita untuk datang kesana menyaksikan peninggalan sejarah yang sangat melegenda bagi umat islam, sejarah penaklukan Konstantinopel.

Bangunan yang disebut dengan Aya Sofya atau Hagia Sophia ini dulu adalah bangunan kebanggaan bangsa Romawi Timur.  Pada zamannya, bangunan ini termasuk bangunan yang super luxury, dan kemegahannya masih diakui sampai sekarang.

Saat 2019 saya kesana, bangunan itu disebut Aya Sofya III karena sudah 3x berevolusi. Dari Gereja, Masjid lalu Museum...

Kemarin kemarin saya selalu mendapat kabar bahwa Aya Sofya akan kembali menjadi masjid. Saya menunggu kabar bahagia itu. Sayangnya saat itu masih banyak hoax beterbangan di kalangan netizen.

Mengapa saya menyebutkan bahwa kembalinya Aya Sofya menjadi masjid adalah hal yang menggembirakan? Karena saat ia berdiri dg status sebagai museum, justru malah membuat umat islam sedih  mengingat dulu Kekhalifahan Utsmaniyah pernah ditumbangkan oleh rezim sekuler Atatürk (1924), Aya Sofya lah salah satu korban dari sekulerisasi Turki saat itu.

Tadi malam, Jumat 10 Juli 2020 Aya Sofya benar-benar kembali kepada evolusinya yang ke 2, yakni menjadi masjid kembali. Otomatis orang-orang bisa free without fee untuk masuk kesana. Tentunya bisa bebas kembali beribadah di tempat itu, tidak akan ada polisi yang menegur lagi (kayak di film 99 Cahaya Di Langit Eropa gitu deh)... :D

Aya sofya...
Mengingatkan pada perjuanganku dengan kawan kawan. Saat kami melirik gambar Aya Sofya yang menjadi simbol perjuangan, saat itu juga kami kembali ke masa lalu, masa penaklukan by Al-Fatih. Saat itu juga kita berpikir, dia adalah kaum muda yang bisa menaklukan Konstantinopel. Maka kita adalah kaum muda yang bisa menaklukan cita-cita kita sendiri...

Saya yakin ini adalah doa umat muslim yang merindukan syariat. Seakan Turki mengatakan pada dunia bahwa islam dulu pernah berjaya dan akan berjaya lagi seperti dulu ia pernah berjaya.

Selamat datang kembali Aya Sofya Camii...

Titip salam rinduku pada peradaban...

Aya Sofya, Sen bana neler neler hatırlattın. Sana nasıl yetișeceğimi bi bilseniz de beni tekrar çağırırsın senin yanına...

Selasa, 07 Juli 2020

Cara Cepat Menghafal Al-Quran


Kak gimana sih supaya cepat hafal?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya mau Tanya dulu nih, alasan pengen cepet hafal tu kenapa ya kira-kira? Kalau alasannya karena pengen cepet-cepet menyandang gelar hafiz/hafizah, tinggal ganti nama aja lah ga usah cape cape ngafal.  
Nah terus sya Tanya lagi. Kenapa mau jadi hafizah ? Tentunya karena cita-cita yang mulia untuk mendapatkan kategori keluarga ALLAH. Karena dalam hadits disebutkan
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. 
Siapa yang gak mau jadi keluarganya ALLAh? Tapi yang menjadi catatan, untuk menjadi keluarga ALLAH, untuk menjadi seorang anak yang bisa menyematkan mahkota kemuliaan di akhirat bukanlah orang yang hafalannya cepat. Tapi dia yang menikmati proses kebersamaannya dengan alquran.
Malah Cepat tergesa-gesa dalam menghafal bisa jadi menghilangkan esensi dari seorang hafiz itu sendiri.
Orang yang punya target cepat hafal, cepat jadi hafiz tidak salah. Tapi seandainya kecepatan dia dalam menghafal tidak sesuai ekspektasi,lalu muncul rasa sedih dan kecewa maka hati hati ini peluang setan untuk membuat kita putus asa.
Ada yang dia nyantai aja menghafal sehari misalnya 3 ayat. Dibawa dalam shalat, diulang terus sepanjang hari itu, kemudian disetorkan pada ALLAh dalam shlat malamnya. ENak dia, sangat menikmati proses. meskipun belum menjadi hafidz, dia merasa bahwa alquran adalah bagian dari jiwanya. Sama seperti Shabat Nabi dulu ketika Alquran disampaikan pada mereka, mereka tidak menambah hafalan mereka sebelum ayat tersebut mereka amalkan. Intinya adalah menikmati prosesnya. Nah, terkadang setan pegel nih liat yang kaya gini, digoda maksiyat ga mempan. Trus gimana caranya? Mulailah setan memberikan bisikan “kamu udah mampu kok sehari 3 ayat. Coba kamu tambah hafalan kamu lebih banyak lagi karena kamu mampu.” Nah disini kalau seandainya kita mengikuti bisikan itu, lalu kita bisa mungkin sehari hafal 2 atau 3 halaman kemudian kebetulan pada halaman yg kata kata nya agak susah, dia mulai kesulitan dan mulai depresi karena ga masuk masuk. lama kelamaan hilang pola istiqomah dia dalam menghafal. Karena hafalannya terlalu banyak, alih alih setor sama ALLAH di sepertiga malam, dia udh gamau lagi bawa hafalannya ke dalam sholat karena kewalahan.
Ingat, surat taha ayat 2  “Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah;”
Jadi intinya , boleh kita cepat dalam menghafal asalkan bisa istiqomah dalam menjaganya, tidak berputus asa saat hafalan kita tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Karena ALLAH tidak akan memutuskan pahala dan keberkahan al-quran selagi ia tetap dibaca dan diamalkan walaupun 1 ayat.

Nah kalau cepatnya hafalan kita tidak merusak pola istiqomah, maka saya punya 3 tips yang mgkin bisa di pakai teman-teman dalam menghafal supaya cepat.

Yang pertama, jaga adab dengan alquran, perbaiki diri sendiri. misal kita orangnya ceroboh, itu akan mempengaruhi cerobohnya hafalannya kita. misalnya membacanya cepat dan banyak salah harakat atau hurufnya tertukar. Itu bisa jadi disebabkan karena karakter kitanya yang memang biasa ceroboh. Supaya hafalan kita tidak berantakan maka satu satunya jalan adalah dengan mengubah total kecerobohan itu menjadi kehati-hatian. dalam berkegiatan sehari-hari, niatkan untuk selalu hati. demi hafalan, demi alquran kita. Kalau  udah saha masih aja ceroboh, yang penting kita bisa tanggung jawab terhadap kecerobohan kita.

Cara yang kedua, karena alquran itu berbahasa arab, maka coba pelajari bahasa arab terlebih dahulu. Dari kosakata, dan lebih bagusnya belajar ilmu sharaf, nahwu dan kalau bisa sekalian balagahnya. Karena kalau itu sudah dipelajari, menghafal alquran akan lebih mengasyikan dan tentunya akan cepat karena dia tau arti dan susunan kata-katanya.

kalau ini gak bisa, paling tidak kamu punya rasa senang, semnagat dan focus dan aturan yang bagus dalam menghafal. Meskipun ga tau artinya, tapi keseriusan kita bisa mendobrak benteng penghalang yang menjadi sebab kita jadi susah ngafal. Aturan ketat yang ditetapkan pada kita bisa membuat hafalan kita jadi cepat juga. Misalnya kita dituntut sehari 2 halaman, kalau ga bisa ada hukumannya. Maka kita akan cari cara supaya bisa setoran sehari 2 halaman. Entah mgkin dengan bangun malam, mengorbankan waktu istirahat dsb.
Yang disebut dengan focus disni adalah bisa mengendalikan semua indra kita untuk focus menghafal. Kalau cara belajar kita dengan visual berarti kita harus banyak melihat mushaf, kalau cara balajr kia auditoria tau lebih dominan ke pendengaran maka kita harus lebih banyak mendengar misalnya kita harus bersuara saat mengafal telinga kita mendengar atau mungkin mau mendengar dari orang lain juga bisa.
Kalau gaya belajar kita kinestetik, ga ada salahnya kita tulis apa yang mau kita hafal dulu misalnya. Dan organ terpenting yang harus hadir di gaya belajar apapun itu, adalah hati kita.
Kalau ada yang punya saran lain untuk mempercepat hafalan, misalnya menggunakan 1 mushaf aja, atau merekomendasikan berbagai metode hafalan, itu bisa disesuaikan dengan kecocokan masing-masing. Karena semua metode, semua cara terbaik tetap tidak ada gunanya kalau kita tidak murojaah. Oke itu lah cara yang saya sarankan untuk teman-teman. Semuanya akan terjadi dengan kehendak ALLAH , maka semua apa yang kita usahakan pastikan diakhiri dengan tawakal. Jika target ga tercapai ga usah ngedown ga usah sedih, masa udah dikaruniai rasa semnagat alquran malah sedih. Kalau mau Allah tambahkan keberkahannya, jalan yang harus kita tempuh adalah bersyukur.

Maka ga akan ada kesedihan walaupun kita nambah 1 hari 1 ayat. Asalkan apa? Kita bahagia dan bersyukur dengan dikaruniai alquran pada hidup kita







Kamis, 02 Juli 2020

Kontribusi Wanita Untuk Dunia


Asswrwb.
Mengetahui bahwa pada zaman ini jumlah wanita lebih mendominasi daripada pria, dikhawatirkan pria pun didominasi dengan sifat emosionalnya wanita. Wanita merupakan makhluk Allah yang banyak diantara mereka menjadi penghuni neraka. Kita sbeagai wanita tentu tidak ingin hal itu terjadi. Kita harus manjadikan wanita sebaik baik perhiasan dunia, bukan sebagai sumbu api neraka.

Peran wanita dalam berbagai posisi tentunya sangat penting. Baik bagi dirinya, keluarga, maupun masyarakat. Kita telah mengadakan diskusi dalam grup tahsin dan murojaah di group whatsapp dengan sekitar 93 peserta.
Menurut akhawat sekalian, kontribusi apa yang paling minimal yang bisa diusahakan oleh setiap wanita dari kalangan manapun?

Kita ambil pendapat dari Ukhti Nurvadila dari Bandung contohnya :
Menurut saya, di era kecanggihan teknologi, seorang muslimah dituntut untuk tegas terhadapt diri sendiri dan lingkungannya. Begitu banyak tantangan yang dihadapi muslimah seiring dengan perkembangan zaman. Banyak penyimpangan pergaulan yang tidak terkendali. Siapakah yang harus kita salahkan? Jawabannya tidak ada yang harus disalahkan, yang harus kita lakukan adalah menguatkan iman dengan ilmu yang sesuai dengan syariat Allah untuk menghindari ancaman di era milenial. Musliamh masa kini harus memiliki komitmen yang kuat terhadap syarit Allah. Sehingga apapun yang dilakukan para muslimah tidak menyimpang dari aturan sebenarnya.

Di era milenial ini, kita khususnya para kmuslimah harus bersungguh sungguhh membangun karakter yang baik secara lahir maupun batin. Menyiapkan ilmu spiritual dalam era milenial. Kita bukan lagi perang melawan musuh dengan kekerasan fisik. Tapi melawan pemikiran yang tidak sesuai dengan norma kehidupan dan menyimpang dari syariat islam baik yang tersirat maupun tersurat. Kita sebagai muslimah harus cerdas begaimana menata kehidupan di era milenial ini agar selamat di dunia dan akhirat nanti. Perempuan harus memiliki wawasan luas dan bermental tangguh. Peran wanita kini tidak ada bedanya dengan lelaki, hanya saja dibatasi oleh kodrat.
Muslimah harus berwawasan karena dirinya akan menjadi tombak dalam pendidikan keluarga bagi anak-anaknya.


Karena banyak sekali yang berpendapat, kami sughkan pendapat para akhawat dengan bentuk rangkuman ya .

Oke. kontribusi yang minimal kita lakukan adalah menjaga diri kita sebaik mungkin dengan memperbaiki hubungan dengan Allah dan seluruh ciptaanNya, berusaha menjadi pribadi yang selalu ingin tahu khususnya dalam hal keagamaan, lalu memiliki prinsip “tiada hari tanpa quran” karena mereka yang menjaga kebiasaan dengan alquran, maka alquran pun akan menjaga kita dari segala perbuatan yang tidak baik. Lalu membiasakan diri untuk hadir di majlis ilmu. karena dengan ilmu, wanita akan baik akhlaqnya dan bisa melahirkan generasi harapan. Kemudian dengan menutup aurat secara syar’i, menjaga iffah dan izzah kita sebagai perempuan. Hal itu dapat membuat pria menundukkan pandangannya dan membuat diri kita terhindar dari fitnah. selain itu, ada langkah lain yang bisa dilakukan yaitu dengan menyampaikan ilmu atau hikmah yang kita dapatkan. Karena hal seperti ini jika memang dianggap kecil, bisa jadi itu adalah hal yang agung bagi si penerima. Yang terakhir, yuk kita biasakan mengakhiri hari ataupun mengakhiri setiap aktivitas kita dengan bermuhasabah, cek lagi niatnya. Tadi aku ngelakuin ini untuk apa?

Dan berhubung kita ada di akhir zaman, Kita bisa melihat sedikit demi sedikit sunnah mulai ditinggalkan. Maka beruntunglah bagi dia yang mempertahankan untuk terus melakukan sunnah Rasulullah sampai pada masa sekarang.
Apabila ada yang berkilah bahwa kini sulit untuk mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah karena banyak tantangan dan godaan. maka tingkat kesulitan itupun dihargai oleh Allah, sebagaimana diri­wayatkan dalam hadits:Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Man tamassaka bisunnatii ‘inda fasaadi ummatii falahu ajru miata syahiid.”
Barangsiapa yang berpegang teguh dengan sunnahku di kala kerusa­kan umatku, maka baginya ganjaran 100 syahid dalam perang jihad. (HR At-Thabrani dan Al-Baihaqi).

Nah kita sekarang para muslimah sedang berusaha melakukan misi yang tadi telah dijelaskan. Ada yang dengan mengajar, ada yang memulai dengan mengajak warga kampungnya untuk mengaji, ada juga yang memulai dengan memperkenalkan islam dengan cara yang paling indah sehingga menepis pemikiran-pemikiran orang lain yang beranggapan bahwa islam itu extreme dan menakutkan.

Yang kita harapkan adalah kita bisa menerapkan ilmu pengetahuan maupun ilmu keagamaan dengan membuat perubahan yang lebih baik. Karena peran kita sesebagai muslimah sangat menentukan keadaan dunia. Jika bagus wanitanya, gegenerasinya pun akan semakin baik. Begitupun sebaliknya.
Kami harap tulisan kami kali ini bisa menjadi kontribusi kecil dari kami untuk memperbaiki dunia pada masa kini. semoga Allah memudahkan kita dalam meniti di jalanNya yang benar. Aamin YRA


jangan lupa untuk memberikan tamsil islam terbaik dengan memperbaiki niat dan amal amal kita ,lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. :)

Kami selalu welcome bagi yang ingin memberikan saran kontribusi yang lain :)

Rabu, 01 Juli 2020

Cerita Hikmah Guru Terbaik

Ini adalah cerita guru terbaikku...

Tahun lalu aku pulang dari Turki. Aku benar-benar merindukan teman-temanku yang dari dulu selalu mewarnai hari hariku. Salah satu dari mereka adalah Risma. Dia adalah salah satu teman terbaikku. Dia tak pernah lupa untuk selalu menanyakan kabarku. Walau terkadang aku lupa menanyakan kabarnya dan selalu bersikap jutek, dia tak pernah lelah untuk memastikan aku baik baik saja.

Dia adalah temanku ketika SMP. Aku sering berbagi cerita dengannya tentang hal apapun. Suatu hari ketika kita sedang bertukar cerita, dia pamit duluan karena akan mengerjakan tugas dari gurunya. Aku penasaran tugas apa yang dia dapatkan. Akhirnya dia memintaku untuk membuka kitab Tafsir Jalalain. Saat itu aku diminta untuk membacakan kitab yg tdk ada harakatnya alias kitab gundul.
Jujur, aku belum pandai dan mahir dalam membaca kitab. Masih perlu banyak latihan lagi. Aku mengakui pada Risma bahwa aku belum bisa dan aku pun mengatakan ingin belajar. Saat aku membaca harakat yang salah, dia menertawakan dan mulai membanding bandingkan diriku dengan yg lain. Dia memaki dan mengejekku dengan hal yang menyakitkan, hanya karena aku tidak pandai membaca kitab gundul. Aku bertanya bagaimana cara membaca kata ini dan itu? Dia hanya terdiam dan bilang "pikirin aja sendiri". Aku bilang aku akan belajar, dan kalau bisa aku minta dia untuk mengajariku. Tapi dia mengatakan "telat! Percuma aja ngajarin kamu!" . Dia langsung mematikan teleponku begitu saja. Itulah yang membuat akhirnya aku ciut.

Ya aku mau belajar tapi posisi sekarang aku terikat dengan instansi lain, jadi ya ga mungkin aku tiba-tiba minta izin untuk belajar di luar. Aku sedang melaksanakan tugas dan tanggung jawab disini. Maka aku cari cara bagaimana caranya aku bisa belajar dengan tidak meninggalkan tanggungjawabku. Akhirnya aku minta bantuan dia untuk mengajariku.

Tapi aku tidak habis pikir mengapa dia seperti ini. Aku yang mengenalnya tak pernah menyakiti orang lain, aku yang mengenalnya sangat perhatian dan baik hati kini berubah begitu saja. Semua terjadi setelah dia mengetahui kebodohanku. Dia tak menghubungiku sama sekali setelah kejadian itu.

Aku tau aku belum fokus dan serius pada kitab gundul, aku memang harus belajar lagi. Tapi kata-kata dia yang menyakitkan seakan menghujam niatku untuk belajar lagi dan lagi. Aku hampir benar benar putus asa.
Aku katakan aku menyerah untuk menimba ilmu ini. Aku telat! Aku tidak ingin belajar kalau memang kebodohanku hanya bisa dijadikan bahan ejekan dan tertawaan.
Benar benar HAMPIR putus asa. Aku masih sedih, aku mencoba untuk menghilangkan pikiran pikiran negatifku saat itu.

Biasanya setiap malam Risma rajin menanyakan kabar dan asyik kembali untuk bercerita dengan cerita berbeda tiap harinya.

Malam ini aku tidak menerima kabarnya lagi. Disana aku berkesimpulan bahwa "bodoh itu menyakitkan."
Ingin rasanya share kata kata itu di medsos. Tapi, untuk apa?

Aku hanya bisa merenungi kejadian menyakitkan itu saja. Dengan meminta pendapat orang orang terdekat, apa yang harus ku lakukan?

Masa KBM online seperti ini, aku memiliki kesempatan menggunakan HP sampai jam 11 malam. Setelah itu peraturan tetaplah peraturan. Supaya tahajud tidak kesiangan, jam 11 semua kegiatan harus sudah diselesaikan.

Tepat jam 11 saat aku akan mematikan handphone, telepon berdering tanda ada panggilan yang masuk. Ternyata itu RISMA! Aku sebenarnya bingung mau angkat tapi kesedihanku belum pulih 100%. Tapi Bagaimanapun juga aku tidak boleh egois dengan hanya mementingkan kesedihanku.

Bismillah... Aku menghela napas dan mengangkat telepon. Alhamdulillah aku bisa berbicara seperti biasanya dan melupakan apa yang dia katakan saat itu.
Dia membuka percakapan dengan bertanya seperti ini "kamu tidak marah, kan? Apa kamu ngambek?"

Wah ternyata memang dia tau kalau aku bakalan down begini, makannya awal percakapan dimulai dengan perkataan itu. Aku berusaha memulihkan emosiku agar tetap stabil dan akhirnya aku sudah "menghijaukan" semuanya dan disana aku menyambut panggilan dia seperti biasanya. Aku bilang aku hanya mengambil pelajaran saja dan memang aku yang belajarnya tidak serius selama ini. Tidak ada pula alasan untuk aku ngambek atau apapun. Dia bertanya berkali kali meyakinkan bahwa aku tidak marah sedih dan ngambek.

Ketika aku mendengar Risma berbicara aku selalu bersugesti dia adalah sahabatku yang baik. Alhamdulillah aku bisa ikhlas terhadap apa yang pernah dia katakan padaku.

Dia mengatakan "bagus kalau kamu gak ngambek. Aku gak mau kalau ngajarin orang yang digituin dikit aja udah ngambek. Kamu tau sendiri kan kalau mau mendapatkan ilmu itu harus dengan kesungguhan alias mental yang kuat. Aku juga ga suka seandainya ada orang yang posting status yang isinya menyindir nyindir. Atau dia meluapkan semua emosinya pada medsos sehingga semua orang tau, aku gak suka yang kaya gitu by the way."

Untung aku enggak posting apa-apa. Dalam hati :D

Setelah dia mengatakan seperti itu aku paham ternyata dia kemarin hanya menguji seberapa yakin aku mau belajar kitab, sekuat apa keteguhanku saat aku menemukan kesulitan. Seberapa lama aku bisa aku bersabar dalam kesedihan, dengan tidak menyebar kesedihan itu pada banyak orang apalagi media sosial.

Lalu dia berkata "dan sebenarnya aku tidak menyalahkan kamu kalau kamu bertanya. Tapi kenapa aku ga jawab, kamu tau? itu karena kamu selalu ingin dapat jawaban dengan cara yang instan, padahal kamu mampu untuk berpikir terlebih dahulu. Ingat nih, salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah dengan tûlû zamânin, waktu yang panjang"

Disana aku akhirnya menyadari kesalahanku adalah terlalu sering bertanya, padahal aku bisa mikir dulu. Ok, insyaallah tidak akan aku ulangi lagi.

"okay, kalau gitu aku kasih kitabnya, kita belajar dari awal. Buka halaman sekian sekian..." kata Risma.

MasyaAllah... Tabarakallah... Dia benar benar mau mengajariku! Aku lulus jadi muridnya!!!

Kalian ingat Risma meneleponku jam berapa? Ya! Jam 11 malam waktunya HP harus aku kumpulkan. Tapi jam itu juga pelajaran kitab pertamaku akan dimulai. Aku bingung masa iya Risma yang sudah berbaik hati mau ngajarin aku tapi tiba-tiba aku izin krna hp harus dikumpulin? Akhirnya aku nekat izin pada ketua asrama untuk belajar tengah malam seperti ini. Alhamdulillah diizinkan.

Risma memang sengaja meneleponku jam segitu. Dia tau jam 11 adalah waktunya kumpul HP. Dia mau lihat sebesar apa pengorbananku pada ilmu sehingga ketika dia mendengar aku sudah izin, dia pun rela dan mulai mengajarkanku sampai aku paham.

Di tengah tengah pelajaran dia bilang "bentar, aku mau minum susu dulu ya". Aku harus rela menunggu sampai dia kembali lagi. Saat dia membuat susu, jaringan internetku tiba tiba mati!!! Aku khawatir dia mengira aku yang mematikanya. Aku cari cara menghubungkan kembali dan agak lama sih pulihnya tapi pulih juga.
Aku lihat Risma menelponku 2x dan tidak terangkat. Aku telepon dia balik dan dia menolak panggilanku. Aku telepon lagi dia tolak. Aduh jangan jangan aku benar benar ga lulus jadi muridnya dia? Panggilan ditolak mentah mentah begini. Pikirku. Tapi aku masih punya harapan.

Aku tunggu beberapa lama untuk aku hubungi ke 3x nya. Sekitar pukul 00.30 aku hubungi dia untuk yang ketiga kalinya. Dia menjawab dan masih mau mengajariku, alhamdulillah...
Disini aku menyadari bahwa mendapatkan ilmu harus dengan kesabaran tanpa putus asa.

Ketika belajar, aku memang tidak sempurna dan kadang masih salah baca. Dia bilang padaku "dasar murid bodoh". Awalnya aku sempat tersinggung, tapi rasa respect aku terhadap ilmunya Risma membuat aku tidak peduli apa yang akan dikatakannya padaku. Aku hiraukan dan hanya tertawa kecil, aku mengiyakan "ya kalau aku pinter, aku ga akan minta belajar sama kamu."

Dia pun melanjutkan pelajaran.

Sering sekali dia mengucapkan aku murid yang bodoh. Alhamdulillah aku sudah biasa.
Atau kalau bukan perkataan "murid bodoh", dia selalu menyindirku "lah katanya lulusan Turki, katanya Hafidzah, katanya Juara Umum". Kali ini aku katakan padanya "Ris, tolong hilangkan semua gelar itu selama aku jadi murid."
Dia pun menjawab " memangnya MURID bukan gelar?"
Aku terdiam. Dari sini aku merasakan betapa pentingnya rendah hati di depan guru. Selama jadi Murid, kita perlu menghilangkan semua kehebatan kita. Cukup satu gelar yang pasti. MURID.

Pelajaran berlangsung tiap hari. Mulai saat itu dia benar benar mengajariku dengan cara yang baik sampai aku paham. Terkadang kita belajar sambil bertukar cerita di akhir atau awal pelajaran.

Dia bercerita, suatu hari ada seseorang yang terlalu "pinter". Karena saking pinternya, dia menggunakan akal kepintarannya itu untuk mengorek kesalahan-kesalahan orang lain. Cerita penuh hikmah dia ceritakan. Kesimpulan yang dia katakan di akhir cerita ini adalah "ada sesuatu yang harus kita ketahui dan ada juga yang tidak harus kita ketahui, Nit. Makannya jadi orang gak perlu pinter pinter banget, nanti ya kaya bgitu."

Disini aku paham kenapa dia selama ini selalu bilang aku murid bodoh, karena dia ingin aku untuk tidak 'terlalu' pintar sehingga terjadi kejadian seperti apa yang dia ceritakan dalam cerita tadi. "ya pinter sewajarnya aja, daripada pinter keblinger" kata dia.

Untung saja aku tidak langsung tersinggung dan marah saat dia bilang "murid bodoh" :D
Disana aku benar benar ikhlas dikatakan murid bodoh. Karena aku yakin, perkataan orang yang berilmu tidak akan jauh dari hikmah.

Aku benar-benar mengagumi cara dia mengajarkanku. Dia tidak hanya mengajariku ilmu, tapi juga banyak hikmah diajarkannya dan aku merasakan perjuangan dan pengalaman menimba ilmu itu tidak selalu mudah.
Kebayang gak perjuangan ulama-ulama zaman dulu gimana mereka belajar? 

Nah, dari sini dia bilang mau mengajariku secara intens...
Aku merasa beruntung punya guru sekaligus kawan seperti dia.

Dari kejadian itu aku paham apa yang dimaksudkan :

أَلاَ لاَ تَنَـالُ الْعِلْـمَ إِلاَّ بِسِتَّـةٍ * سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانِ

Ingatlah, engkau tidak akan sukses meraih ilmu, kecuali dengan enam (hal) * saya akan menjelaskan seluruhnya secara gamblang.

ذُكَـاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ * وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانِ

(1) Cerdas (berakal); (2) Antusias (hobi belajar); (3) Sabar (gigih dan tabah); (4) Biaya (sarana-prasarana) * (5) Bimbingan guru; (6) Waktu lama.


Aku sangat merasakan tiap point ini.

Pertama, kecerdasan.
Dia bilang menuntut ilmu tidak perlu pinter pinter amat. Maksudnya ya bukan berarti tidak berakal juga, kan? Dia melihatku katanya punya potensi akal untuk belajar maka dia uji aku dengan point yang lain.

Yang kedua, antusias.
Dari awal aku minta dia ajarkan aku ilmu kitab, karena aku senang mendengar dia lancar baca kitab gundul. Antusias mulai muncul walau aku hampir putus asa. Aku HAMPIR saja gagal dalam ujian antusias kali ini. Tapi alhamdulillah lulus terlewati.

Ketiga, sabar.
Ini point penting yang juga mendominasi. Seandainya aku tidak sabar saat dia membuat susu tengah malam, seandainya saya tidak sabar dan malah mengumbar kesedihan di medsos, seandainya aku tidak mengangkat panggilan dia dalam keadaan aku masih bersedih, seandainya aku tersinggung dikatakan murid bodoh dsb, maka aku tidak akan pernah jadi muridnya sampai sekarang. Alias aku akan kehilangan kesempatan untuk belajar kitab darinya.

Point ke 4, biaya.
Ini memang perlu. Seandainya tidak ngemodal wifi atau kuota, seandainya ga punya hp, seandainya ga ada sarana dan prasarana, ya ga mungkin terjadi proses KBM ini.

Point 5, Bimbingan Guru.
Ini juga penting. Makannya aku butuh dan minta dia jadi guruku karena aku tidak bisa mempelajari kitab gundul itu sendirian. Bagaimana caranya aku butuh bantuan. Untungnya dia adalah teman dekatku yang bisa aku curi ilmunya :D

Point terakhir, waktu yang lama.
Memang iya, aku pernah belajar kitab. Tapi sebentar doang. Makannya ilmunya ga dapet-dapet banget karena ilmu itu memang harus dikaji dalam waktu yg lama dan berkelanjutan. Sebab itulah Risma tidak langsung menjawab pertanyaan yang kiranya aku tau sendiri jawabannya dengan berpikir dulu. Kalau dia langsung jawab, menandakan aku selalu ingin sesuatu yang instan dan praktis. "kalau gitu belajar aja sama google atau youtube!" katanya menyindir. Dia bilang "kamu ketuaan kalau mulai belajar kitab dari sekarang, kepentok nikah susah nanti belajarnya"
Kali ini aku jawab "ilmu tidak mengenal usia, Ris".

Selain itu aku juga teringat kata-kata bijak Ali bin Abi Thalib :
"Barang siapa yang mengajariku satu huruf, maka aku siap menjadi budaknya".

Ini mewakili perkataanku pada Risma yang aku rasa benar benar ikhlas mengajariku tiap hari secara privat tanpa minta imbalan apa-apa. Aku bingung bagaimana membalas jasa dia. Aku bukan orang yang punya harta benda berlebih. Maka aku titipkan Risma pada Dia Yang Maha Kaya untuk diberikan imbalan yang sesuai :)
Disini aku sadar juga, jasa guru itu tak terbayarkan.
Semoga Allah Memberkatimu selalu, Ris :)

Inilah cerita tentang Guru Terbaikku, Pengalaman namanya.
Terima Kasih yang sudah berpartisipasi memberikanku pengalaman-pengalaman baru :)
Jasa kalian takkan pernah terbalaskan :')

*Risma = Nama samaran :)

Aku harap kawan kawan bisa mengambil hikmah juga dari pengalamanku :)

See you later :)