Jumat, 14 Juli 2017

Ringkasan cerita dari Ust. Felix

First, Rasulullah dilahirkan dari kalangan yang mulia saat itu. Di kalangan Arab kaum Quraisy adalah kaum terhormat. Di kalangan Quraisy sendiri Bani Hasyim adalah bani yang paling mulia bahkan kunci Ka'bah ada pada Abdul Muthalib. Rasulullah semenjak kecilnya sangat dicintai orang-orang dan digelari Al Amin. Terbukti dalam hal pemindahan hajar aswad saat itu. Kalangan Arab masing-masing ingin merekalah yang memindahkan hajar aswad sampai sampai mereka bertengkar dan angkat pedang. Diadili lah mereka oleh Al Amin. pertama-tama Rasulullah mengangkat Hajar Aswad itu lalu Beliau letakkan di atas kain dan masing-masing kalangan memegang bagian ujung-ujungnya. Maksud dari cerita ini kenapa mereka tidak marah ketika Rasulullah mengangkat hajar aswad? karena mereka benar-benar mempercayai Rasulullah sehingga ketika Rasulullah mengangkat Hajar Aswad ke atas kain tidak ada satupun dari mereka yang protes tapi apakah yang menyebabkan mereka membenci Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pasca kerasulannya? jikalau saja Rasul hanya mengajarkan berpakaian tertutup atau sekedar menyeru orang-orang untuk berbuat baik kepada ayah dan ibu mereka atau hanya sekedar memerintahkan berbuat adil atau sebagainya tidak mungkin orang-orang Quraisy membenci Rasulullah hingga ingin membunuhnya. Lalu faktor apa yang membuat mereka bahkan ingin menyiksa Rasulullah sang Al-Amin? Rasulullah membawa pemikiran yang dapat mengubah mereka, Lifestyle mereka. Pada zaman jahiliyah wanita yang ditinggal suaminya jadi aset untuk anaknya sendiri. Mengerikan! Rasulullah datang untuk merubah hal tersebut, bahwa wanita sepatutnya dimuliakan. Pada zaman itu pula wanita menstruasi dianggap penyakit. Sehingga tidak boleh ada yang menyentuhnya bahkan mendekatinya sekalipun. Ketika Rasulullah datang justru Rasulullah mengubah  pemikiran seperti ini, terbukti ketika Rasulullah tidur di pangkuan salah satu isterinya yang sedang menstruasi.
 İslam... agama
 perubahan.
Ketika hz. Abu Bakar dimuliakan dengan Islam, beliau pun berubah menjadi sosok yang justru paling dekat dengan Rasulullah. Begitu pula dengan Umar Bin khattab dan yang lainnya. Setelah Islam terinstall dalam diri mereka, tidak ada keraguan lagi bagi mereka. Mereka justru berubah menjadi sosok mulia.
Jadi jika ajaran Islam sudah terinstal, mesti harus ada perubahan pada dirinya. Jika tidak ada perubahan sama sekali jangan salahkan Islam karena memang tabiat Islam adalah merubah. Salah kita sendiri karena virus dalam diri kita begitu banyak sehingga harus dibasmi dengan dzikrullah. Perbanyaklah install ajaran-ajaran Islami demi perubahan baik yang diharapkan di masa hadapan.

Gürbet

Kalau lagi gürbet (rantau)  tidak akan lepas daripada membandingkan segala sesuatu yang ditemukan (di tanah rantau tsb) dengan sesuatu yg ada di kampung halamannya. Salah satu hal yang saya perhatikan di Turki, khususnya Kota Kütahya adalah penduduknya.  Dibandingkan dengan Indonesia tentu berbeda jauh.  Mengetahui bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi terpadat ke_4 dunia setelah İndia, China, dan Amerika. Namun yang membedakan adalah, kelihatannya di İndonesia lebih sulit mencari/menemukan lahan kosong. Salah 1 faktornya adalah karena di İndonesia kebanyakan memiliki anak lebih dari 2. Sdgkan orang Turki kebanyakan hanya memiliki 2 anak saja. Tapi... Mereka sering kali mengambil anak "manawi" dengan tujuan membantu dalam dalam masalah finansial (salah satunya), pun begitu mereka tetap memperhatikan anak manawinya itu macam anaknya sendiri hingga kebutuhannya terpenuhi. Tak heran kemiskinan, yani orang yang meminta minta jarang ditemukan di pinggir jalan, seperti yang terjadi di negara kita tercinta yang hanya memperhatikan diri dan keluarga mereka masing2. Kalau disini mah meskipun bukan keluarga ngasih Rp500.000 (100 Lira) aja gak tanggung tanggung. Apalagi pada para pencari ilmu agama, dan datang dari negeri jauh. Dengan 1 harapan mereka...  *DOA*. . Mereka percaya betul akan kekuatan doa.  Meskipun tak ada hubungan nasab sama sekali tapi dengan tali manawi yang ketat tak kenal pun serasa kenal lama dlm doa berdasarkan lillahi taala dan persaudaraan sesama muslim. Ho, lanjut yaa... Mereka pun tdk tamak lahan. Pengaturan tempat tinggal diatur dengan bentuk apartman berjajar. Rumahnya tidak besar namun dibuat senyaman dan secantik mungkin hingga siapapun betah tinggal disana. Kebanyakan dari mereka (bahkan hampir semuanya) mendecor lantai rumah mereka dengan karpet. Dipadukan dengan sofa yg berwarna sepadan seperti karpetnya.
Pelajaran yg diambil adalah... Pertama meskipun anggota keluarga dalam jumlah yang membeludak, jangan lupakan kasih sayang kita pada orang2 yg memang membutuhkan, karena org yang berkasih sayang berpondasikan taat pada Allah dengan izinNya İa pun akan melimpahkan rahmatNya yang menjadi tujuan utama kita semua.
Kedua, buat calon housewifers nich haha. Pinter pinter decor rumah, yuk! Karena *home sweet home*sepertinya masih berlaku. My writing here isn't to patronize nor to show that Im a master in it. Tapi karena rumah adalah tempat paling rehat melepas penat, tak ada salahnya didecor senyaman mungkin.  Hehe.  Semoga Allah memudahkan ya, ladies! ^^ dengan menata rumah semoga jadi wasilah tertatanya hati kita.
Yang ketiga, mari hidupkan kata kata *ad-dua'u sillahul muslimin*. Doa itu senjatanya orang muslim. Dengan percaya the power of dua, doa yg terpanjat dgn İzinNya akan dikabulkan, dengan dasar percaya percaya dan percaya.

Salam ukhuwah... 💚

Kuliner

Laper... Mari saya ajak mengintip kuliner di Turki!! hohoho.. masih berlokasi di Kota Kütahya, Turki.
Kali ini saya coba mendeskripsikan seperti apa sih makanan & beverages di sini. Jom...
Pertama, makanan pokok orang Turki adalah roti, bagaimanapun bentuknya. Ada roti yang berbentuk elips, bundar, tipis, roti berbentuk seperti roti warung di Indonesia juga ada, bahkan di daerah perkampungan ada khusus roti kampung. Mereka membuat dengan tangan mereka sendiri.
Di samping roti, makanan pokok yang kedua adalah nasi. Ya mereka pun makan nasi walau bukan sebagai pokok utama. Kebanyakan nasi ditemukan pada jam makan siang atau malam. Dan nasi disini dimasak dengan minyak dan juga garam untuk menambah keunikan warna (supaya tidak polos putih) begitu mereka menambahkan arpacık, semacam nasi tapi berwarna sedikit kecoklatan. Kalau tidak dengan nasi, bulgur dan aneka macam makarna bisa dijadikan gantinya. Yang mencolok dari makanan berat di Turki adalah rasanya yang kecut. Kenapa? karena kebanyakan dari mereka tidak menyukai makanan baharatlı alias banyak bumbu. Bumbu utama yang sering mereka pakai adalah salça alias pasta tomat, garam dan bawang bombay. İtu saja bumbu yang paling sering dipakai. Pantesan wé makanan hambar dan aneh menurut lidah kita, lidah Indonesia, apalagi saya mah orang sunda dan kebanyakan dari lauk-pauk mereka adalah daging. Terkadang mereka mencampurkan daging dengan makanan yang lain pokoknya banyak deh makanan-makanan yang berbahan dasar daging ataupun daging sebagai campurannya. Yang paling jleb adalah di sini gak ada tepung kanji, bahan dasar cilok cireng cimol dan candil. Untuk makanan manis nya bener-bener mereka bikin semanis mungkin, bagiku dessert mereka sih kemanisan. Baklava misalnya, salah satu dessert Turki yang paling terkenal hahaha. O iya kalau pagi paling wajibnya ada roti, zaitun, keju, ditemani biasanya oleh olesan roti misalnya madu, selai. Dan disini ada selai yang unik yaitu selain mawar loh. Lalu ada kaymak, makanan seperti yogurt tapi rasanya tidak asam dan mirip seperti margarin tapi agak encer sedikit. Yah aku sih cuman nulis inti intinya aja kalau misalkan mau ada yang tahu lebih lanjut boleh deh comment atau hubungi aku langsung aja biar aku langsung kasih tau. so, pelajaran yang dapat diambil adalah karena makanan adalah kebutuhan jasmani utama jadi apapun bumbu dan bahan nya yang terpenting adalah halalan toyyiba, halal dan tentunya baik untuk kesehatan. Faktanya orang Asia khususnya Indonesia senang makanan berbumbu sedangkan orang Turki tidak begitu. Syukurilah biar bumbu-bumbu di dunia tidak punah dan tetap lestari. Hehe

Salam kuliner :D

Senin, 10 Juli 2017

Makna Bahasa Indonesia "Adfaita" - Mishary Rasheed

Anda berada dalam posisi kekuatan yang indah. Seperti bunga yang mekar membuka keharumannya.
 Oh Allah jadikan akhlak kita lebih baik lebih suci bersih tanpa sifat ketidak bijaksanaan dan jadikan kesabaran kami seperti apa yang dicontohkan Nabi Muhammad. 
Oh Allah jadikanlah akhlak kami lebih baik, maka kami menjadi hamba yang sukses dengan akhlak yang baik di surga yang kekal. 
Dekat denganmu Wahai Allah,  Nabi Muhammad di sana dan yang memiliki akhlak baik akan menjadi yang terdekat dengannya di surga. 
Berulang kali Allah memuji akhlak Nabi Muhammad yang terpercaya., Allah mengajarkannya hingga ia menjadi makhluk yang paling baik akhlaknya yang diciptakan oleh Allah.
Beliau memiliki sifat penyayang pada umatnya, selamanya. 
Dan beliau adalah sinar yang bersinar indah pada umat manusia. Akhlak sempurnanya adalah akhlak quran yang dihadiahkan padanya dari Allah sang Maha Pengasih. 

Jumat, 30 Juni 2017

Dear NSH...


Keadaanmu skrg sbg bagian dari "muhajirin"  -kata mereka- adalah hal yang seharusnya mulia. Bila apapun yg kau lakukan adl semata karena ingin membuat Allah 'tersenyum'.  Karena dg itu dan hanya dgn RahmatNya lah tujuan utama mu utk mendapatkan surgaNya dapat diraih. Bukan krna sbrapa byk kuantitas amalmu. Jikalau memang kau melakukan amal baik selama 500 tahun pun bisa saja runtuh dgn secuil kesalahan. Oleh karena itu berdasarkan cinta pada Allah dan RasulNya jangan sampai kau lelah utk mencari ridha dan rahmatNya. Bukan masalah, pabila jauh dari orang orang tercinta. Bukankah telah kita ketahui bahwa : "Dia yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku. Dan yang memberi makan dan minum kpdku, dan apabila aku sakit, Dialah yg menyembuhkan aku, dan yg mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku kembali. "
Qs. As-Syuara 78-81.

Wa rahmatu Rabbika khoirun mimmaa yajma'uun.  (qs. Zukhruf 32)

Salam ghuroba...

Hafiza Fatma Kecil

Not : aku = ustadzah

Begitu lulus SD, ia masuk asrama. Keluarganya mengatakan bahwa ia masuk asrama dengan keinginannya sendiri. Ketika aku bertanya namanya tanpa ragu ia jawab "Fatma" dan menambahkan :
"apabila anda tidak menjadikan saya hafizah,  saya tidak mau mendaftar kesini. "
Dengan tersenyum aku menjawab ''jangan khawatir, adik! Selain menjadi hafız, kau juga akan menjadi guru!". Mata Fatma yang kecil tiba-tiba berkaca. İbunya "ustazah maaf, namanya juga anak-anak. Lagian dia kan minta menjadi hafiza, bukan minta yang aneh aneh. Soalnya dia dengar dari ustazah di kampung kami bahwa suatu saat nanti para hafiza akan memakaikan mahkota pada orang tuanya. Mungkin anda lebih tahu. Kami hanya mendengar saja.
"tentu saja, Bu! Andaikan orang orang juga mengetahui hal ini juga. Jangan khawatir, Bu. Sebelumnya amanatkan dulu anaknya pada Allah, lalu pada kami."
İbu itu mencium tanganku namun aku tarik karena malu, lalu aku pun mencium tangan ibu tersebut. Air matanya mengalir dan berkata "ustadzah, tangan ini penuh dosa, seharusnya anda yang lebih layak!"
"astagfirullah, Bu! İtu akan jelas di akhirat nanti" jelasku.
Setelah perbincangan ini saya melanjutkan mengurusi pendaftaran Fatma. Kini saya tahu, Fatma berasal dari sebuah kota bernama Erzurum. Saya berfikir, mengapa anak ini jauh jauh datang kesini?
Beberapa bulan berlalu. Fatma begitu akrab denganku, akhlaknya baik. Sering kali aku melihat ia mengigau sambil menyebutkan ayat ayat al-quran.
Suatu hari ia datang kepadaku dan bertanya "ustadzah, untuk menjadi seorang hafizah apakah harus hafal seluruh al-qur'an?". Aku pun menjawab "ya, tentu saja. Jika sudah hafal semua barulah dinamakan hafiza." dengan jawaban ini sepertinya ia sedih. Seakan akan ia mengharapkan sesuatu. İa berterima kasih dan pergi menuju teman-temannya.
Aku selalu mengingatkan mereka bahwa menghafal quran itu harus disertai dengan implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Lalu timbul pertanyaan salah satu dari antara murid "ustadzah, kata ibunya Fatma, hafiza tidak boleh disentuh oleh orang yang tidak punya wudhu. Betul gak?" begitu tanyanya. Dalam hati, aku mengucapkan masyaa Allah. Untuk menjawab pertanyaan itu aku pun mengatakan "waktu zaman Osmani dulu, untuk menghormati para hafiz hafiza mereka melakukan hal demikian."  mendengar jawaban tersebut mereka sangat senang. Mereka membayangkan diri mereka seperti emas yang berada dalam kaca. Lihatlah suatu hari nanti, pikirku.
Dalam usia mereka yang terhitung kecil ini mereka datang kesini, menghafalkan kalamullah.
Beberapa bulan kemudian Fatma merasa tidak enak badan dan berbaring di kasur. Setorannya tertunda selama 2 hari. Akupun bertanya padanya "ada apa denganmu? Apakah kau rindu ibumu?". İa melihat ke arahku dengan wajah pucat dan menjawab "Tidak!".
"kalau begitu, mengapa kau sering sakit seperti ini? ".
Air mata mulai memenuhi mata Fatma
"jangan salah faham, ustadzah! Meskipun aku rindu ibu, aku tidak ingin pergi dari sini. Aku senang tinggal disini. Aku takut pada Allah. Jika aku meninggalkan tempat ini Allah akan bertanya alasannya."
Lidahku terkunci. Aku merasa bersalah dan aku merasa kagum padanya.
Suatu hari sakitnya semakin parah. Aku harus membawanya ke rumah sakit. Setelah hasil diagnosa keluar, dokter yang kebetulan adalah temanku datang menghampiriku. "segera bawa anak ini pada orang tuanya!"
"memangnya kenapa?"
"mungkin kau akan sedih atau bahkan tidak percaya bahwa anak ini mengidap kanker. "
Mendengar hal itu aku merasa diriku bukanlah diriku. Benar benar tak ku sangka akan hal ini.
Ketika pulang dari rumah sakit aku tak bicara apapun pada Fatma. Namun sepertinya ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. İa berbisik padaku "ustazah, gimana sih İzrail kalau ngambil nyawa orang?"
Aku tak bisa tahan menangis "İzrail bersikap baik pada orang orang mumin".
İa berbicara dalam hati "mungkin aku bukanlah hafiza. Tapi alhamdulillah aku seorang yang mumin."
Sekarang aku faham kenapa ia sedih saat aku mengatakan bahwa untuk menjadi hafiza harus menghafal keseluruhan dari Al-Quran. Berarti dari awal Fatma memang mengetahui penyakitnya itu.
Beberapa hari kemudian aku mulai menyiapkan barang barangnya. Karena tidak mungkin ia bertahan di asrama ini. İa harus pulang, keluarganya pun telah datang menjemput. Fatma datang ke sampingku "kau tidak marah padaku, kan? Kalau aku bilang tentang penyakit ini dari awal pastilah aku tidak akan diterima di asrama ini."
"bicara apa kau ini? Bagaimana mungkin aku marah padamu. Dan juga janganlah sedih! Kamu mungkin memang bukan hafiza. Tapi kamu sudah menjadi bagian dari asrama ini. Allah pasti telah menuliskanmu sebagai bagian dari para hafiza juga, İnsyaAllah." İa betul betul senang mendengar kata kataku. İa memelukku "benarkah? Benarkah aku terhitung sebagai hafiza? İbu! İbu dengar, kan? İbu dengar, kan? Aku hafiza!" İa berkata dengan tangisan tersedu sedu.
Ya Rabbi, mengapa terjadi seperti ini? Seandainya Fatma diberi umur yang panjang pastilah ia menjadi hamba yang baik.

Fatma menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya yaitu Erzurum. Beberapa minggu kemudian aku menerima surat. Di surat itu tertulis bahwa Fatma benar benar penasaran dengan mahkota kehormatan para hafiza. Lalu telefon berdering. Sambil menangis ibunya berkata bahwa ia minta dibacakan yasin untuk Fatma. Aku tak kuat menahan tangis. Sebelum menutup telefon, ibunya berkata sambil menangis tersedu sedu "sebelum Fatma meninggal, ia ingin aku mengatakan sesuatu padamu. İa mengatakan "ibu, sampaikan pada ustadzah, İzrail lebih baik daripada yang dikatakannya."

Semoga Allah merahmatinya

Kamis, 29 Juni 2017

2 Part of Success

Kira kira kita yang mana??

#golongan pertama, meraih kesuksesan itu dengan membutuhkan perjuangan, pengorbanan, dukungan, kasih sayang orang orang sekeliling. Golongan pertama ini memulai dari NOL.

#golongan kedua, mendapat kesuksesan dari warisan. Golongan kedua ini tidak begitu banyak perjuangan, pengorbanan, tidak begitu meliputi banyak dukungan, begitu juga kasih sayang sebesar golongan pertama. Hasilnya pun berbeda antara golongan pertama dan kedua. Golongan pertama mentalnya, sosialnya akan lebih berkembang dan kuat. Lebih banyak pengalaman dan mendapat kesuksesan dengan hati yang puas (bangga). Sedangkan golongan kedua, sebaliknya. Meskipun hatinya puas (bangga), tidak akan sepuas golongan pertama. Golongan kedua ini cenderung masih memiliki ketergantungan. Jika menyelesaikan suatu masalah tidak sehebat golongan pertama yang lebih banyak menelan pengalaman2 pahit nan berliku. Mencari jalan keluar yang tetap terus maju berusaha pantang menyerah demi meraih kebahagiaan. Setelah mengetahui hal tersebut, tipe manakah yang lebih diinginkan? Sebenarnya keduanya memang bagus. Jika kita dapat mensyukuri nikmat Allah dengan baik. Jika dari golongan pertama mestilah punya sifat pejuang, optimis, telaten, tahan banting. Tetapi jika bukan dari golongan pertama artinya Allah swt memberi nikmat yang lebih terhadap orang tua kita. Syukurilah! Manfaatkan dengan baik. Berusaha untuk tidak terus menerus tergantung pada orang lain. Banyak melatih dan mengembangkan mental serta sosial. Meningkatkan solidaritas, banyak sedekah, tumbuhkan rasa iba terhadap orang oranv yang ada di bawah.
Ada syair *Jangan merasa bangga dengan status orang tua kita. Tetapi banggalah terhadap diri kita.* yang dimaksud bangga disini bukan 'ujub dengan bangga terhadap sendirinya. Tapi memiliki rasa semangat dan keberanian untuk berjuang. Berusaha, siap menjalani rintangan dan tidak selalu bergantung dan membangga-banggakan orang tua. Karena meskipun kesuksesan orang tua dapat diwarisi tetapi jika kita tidak tahu caranya tidak dapat memanfaatkan dengan baik. So, you will regret next day! Allah muhâfaza.

Sabtu, 25 Februari 2017

Quarantine

Pernahkah anda merasa di karantina? bagaimana rasanya? Sungguh melatih kesabaran, kan? işte...

Mungkin tahun tahun ini adalah karantina bagi saya. Terkarantina dari hal-hal yang ingin dilakukan, dituntut untuk terus mengasah ilmu B.Arab, dll. Ingin rasanya menepis boring dengan menulis tapi ternyata kekurangan referensi. Mauu banget baca, tapi bacaan disini berbahasa Turki yang memang perlu sedikit perjuangan utk memahami. Ingin rasanya baca baca sumber referensi apaaa gitu yg bahasa Indonesia. Tapi apa daya, buku gak ada, hp pun gak punya. Timbul pertanyaan "Kalau gitu diskusi aja sama temen2 disono?!" bisa sihh tapi ketika dicoba ternyata keterbatasan wawasan kami belum cukup untuk itu. "Hubungi temen2 yang bisa diajak sharing dan diskusi atuh?" Boleh, tapi diskusi butuh waktu agak lama. Kalau pake hape orang bisa bisa tuan hp murka sama saya T_T . "hmm. pake ankesör? (tlpon umum di Turki yg bisa dipakai tlp luar negeri)" tapi relakah 5TL untuk 6 menit sahaja? (pulangkan saja aku pada ibuku T_T)

Ingin juga rasanya aktif di masyarakat karena bagaimanapun juga kita adalah bagian dari masyarakat. Pengen juga rasanya punya banyak kenalan biar relasi kemana mana gak susah.Tapi apa daya? mereka menjaga pergaulan kami biar ga sembarangan bertindak, mereka mndidik kami utk tidak melupakan kodrat kmi sbg wanita calon ibu. wkk. mereka bagai menaruh kami dlm museum demi terjaganya kami dri buruknya pengaruh luar. sangat hati hati memang. tapi.... sudahlah

untuk itu tahun2 ini adalah tahun2 karantina untuk saya. saya tak bisa banyak bergerak utk saat ini. jauh dari tanah air jauh juga dari banyak hal.

Apabila masanya telah usai, saya tak nak lupa apa apa yg dulu pernah dipelajari. Thifan, meriset, baca buku, seminar, diskusi dll akan saya lakukan dgn aktif lagi setelah smuanya bisa dilalui. ya, beberapa tahun lagi. InsyaaAllah

Senin, 23 Januari 2017

A Son's Tears

There was a king in a country, the king has wound on his back. Anyone couldn't cure his wound. These wound would be cured only by child's heart. If there was someone who willingly give his child's heart to the king, the king would give him a lot of wealth.

One day there was a husband and wife who had 7 children. The last child was about 6-7 years old. They decided to give their son to the king.

Before the guard kill the son, the son saw toward the people. He saw his parent among the people. After that he saw toward the guard, and saw toward the king. last, he saw the sky and began to cry. "what happen? do you want something or what?" the guard ask the son.
"no, I don't want anything. When I saw my mom, I remember when she willingly fed me, looked afted me, stay up all night just for me. But now she gives me to the king just because of wealth. And then I see my dad, he worked hard for me and gave everything I want. But now he doesn't want me anymore. And then I see you. You are working hard for your king. You do it because you want to apply the justice, right? But now you even kill an annocent child like me. And then I see the king. He is working for people. He has done everything for sake of people's happiness. But now he kill people just because of his wound on his back. Last, when I see the sky, I see some angels and prophet Muhammad SAW.
He said "come here, if they don't want you, I'll look after you." and I begin to cry.

Sabtu, 21 Januari 2017

Porsi

Iptek dengan tanpa imtak akan menghasilkan pola hidup sekularistik dan hedonistik, yang menjadikan SQ (Spiritual Quotient) manusia menjadi terbelakang. Oleh karena itu masa ini diperlukan ilmu yang mumpuni sehingga terjalin IQ, EQ, dan SQ yang berkualitas.

Peran manusia di bumi adalah menjadi seorang 'abd dan khalifah di bumi. Dengan mengetahui urgensi dari kedua peran tersebut, hendaknya manusia menjalankan visi misinya guna membentuk kriteria 'abd dan khalifah yang unggul.

Allah menurunkan pedoman (Al-Quran) dan uswah hasanahNya agar manusia mengetahui hakikat hamba yang sejati, yang tunduk pada Ilahi.

Kita melihat bagaimanakah Sang Khaliq menciptakan alam semesta ini dengan seimbang. Oleh sebab itu manusia diberi kesempatan bebas untuk mengeksplorasi dan mendayagunakan SDA sesuai dengan porsinya.